dua orang sahabat berjalan menyelusuri padang pasir yang amat luas. Hingga sejauh mata memandang, yang tertangkap hanya gundukan pasir, pasir, dan pasir lagi. Perjalanan panjang itu melelahkan, belum terhitung matahari yang bersinar garang, seolah hanya berjarak sejengkal dari ubun-ubun kepala.
Tetapi, perjalanan itu tetaplah dilanjutkan, meski kaki tertatih melangkah.
Hingga, pada satu titik, yang tak jelas dimana itu, badai pasir datang tanpa diduga dan mengakibatkan kekacauan yang luar biasa. Dua sahabat kebingungan, karena bekal air minum yang menjadi "nyawa" mereka sudah entah kemana. Belum lagi mata dan lubang-lubang tubuh lainnya yang sudah terisi pasir dan jangan tanya sakitnya.
Namun, perjalanan tetaplah sebuah perjalanan, yang harus menemui ujung walaupun waktu tak memberi kepastian untuk mengakhiri nya. Dengan lebih tertatih lagi, dua sahabat saling merangkul dan berbagi kekeuatan, "ayo teman, kita selesaikan semua ini".
Di saat bingung dan kesedihan melanda, salah seorang sahabat menulis di atas pasir dan menumpahkan cerita bahwa mereka dilanda kesusahan. Bekal air mereka raib, dan mereka tidak terlalu yakin akan hidup mereka beberapa menit ke depan, entah masih ada nywa, atau sudah tinggal nama.
berselang waktu kemudian, seorang sahabat berteriak mengatakan bahwa mereka menemukan oase di sana. Sedang, sahabat yang satu kembali tidak percaya, "itu fartamogana". Dekat, dan semakin dekat, ternyata itu memang sebuah sumur kecil yang berisikan sekian liter air, yang akan menjadi penentu hidup mereka
lagi, lagi jangan tanyakan berapa besar bahagia yang dirasakan. Minum sepuasnya, dan mengisi bekal sesukanya, itu lah yang mereka lakukan.
Perjalanan belum berakhir, tetapi setidaknya mereka telah menyelesaikan separonya, dan setengahnya lagi dengan keyakinan baru.
sahabat tadi kembali menulis, tapi tidak di atas pasir melainkan mengukir di atas sebongkah batu. " kami bergembira, kami mendapati sumur yang airnya segar dan menyejukkan"
melihat tingkah pola sahabatnya, rasa ingin tahu sudah tak terbendung lagi, hingga ia bertanya," tadi ku lihat, kau menulis di atas pasir, dan sekarang kau mengukir di atas batu. apa ada sesuatu yang menarik untuk diceritakan?"
sahabat ini tersenyum, dan berujar,"ketika kita kesusahan, aku tulis di pasir biar angin kebahagian membawa serta tulisan itu. tetapi ketika aku mendapatkan kebahagiaan maka aku ukir di batu, agar tidak ada angin bisa menghapusnya, biar dia abadi"
cerita itu, anggap sebagai pengantar tidurmu teman, tapi yang pasti bahwa aku ingin kau seperti seorang sahabat tadi. Ketika ada kegelisahan, maka buatlah hati mu laksana pasir yang luas, dan aku tidak akan melarangmu untuk menumpahkan kegelisahan itu. Bahkan andaikata kau tambah dan kau bumbui dengan caci maki yang penuh kebencian pun silahkan. Namun, ingat jadikan landasan itu adalah pasir, yang tidak bertahan lama dan akan hilang terbawa angin kebhagian, meski sedikit tapi setidaknya membuat tulisan itu kabur berantakan. AKan tetapi teman, ketika kau bahagia, maka rubahlah sekejap hatimu seperti batu, dan ukir lah ceritamu di atasnya, agar hanya triliunan kesedihan dan air mata yang bisa membuat ukiran itu sedikit cacat"
dan, jadi kan lah aku bagian dari ukiran batu tersebut. meski satu dua paragraf, aku ingin menjadi cerita yang kau pilih untuk disimpan di batu dan bukan di pasir
Senin, 22 November 2010
Senin, 19 April 2010
pi b' day mama...
Minggu, 18 April 2010 adalah hari jadi ibu ku yang ke- 47 tahun. Gembiranya menyambut hari tersebut datang. Meskipun, aku terpisah ribuan kilometer dari beliau, tapi hati ini seakan tiada bersekat. Ibu adalah sosok terpenting dan berpengaruh besar dalam hidup semua anak di dunia ini. Tak terkecuali diriku. Bagi ku, ibu tak hanya sekedar seorang wanita yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan ku dengan segenap kasih dan sayangnya. Tetapi, ibu juga sahabat yang setia dan teman paling mengerti tentang mau ku. Memang, tak bisa ku pungkiri bahwa ibu adalah malaikat pelindung ku di alam fana ini.
Di usia yang menjelang setengah abad ini, ibu tetap "setia" dengan kesederhanaan dan kesahajaannya. Hal itu yang membuat ku acap kali meneteskan air mata rindu di saat aku jauh dari ibu. Ibu ku bukan wanita yang istimewa dalam pandangan umum. Beliau bukan lah wanita yang menyandang gelar pendidikan di belakang namanya. Ibu bukan wanita yang memiliki karier yang cemerlang dalam kehidupannya. Beliau bukan pejabat, PNS, ibu darmawanita, maupun ibu-ibu yang orang memanggil "nyonya" kepadanya. Justru sebaliknya, ibu ku adalah wanita biasa dan serba biasa di setiap lini hidup yang dijalaninya. Beliau cukup puas dengan hanya pendidikan dasar yang dia punya, dan dia cukup bangga dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga.
namun, semua itu bukan jadi soal bagi aku, anaknya. Di mata setiap anak, pastilah orang tua mereka menjadi idola dan orang yang terbaik. Karena, sedari seorang anak membuka mata pertama kali di dunia ini, mendengar suara, hingga mampu mengucap kata-kata, semua itu dilewati bersama orang tua, khususnya ibu. Bagiku, ibu adalah guru terhebat yang pernah aku jumpai dalam hidup ini. Sedari aku kecil, hingga beranjak dewasa, ibu tidak pernah terlepas sedikitpun. Dengan nasihat-nasihat nya, dengan contoh yang dia berikan, dan kasih sayang yang tak terhenti tercurah. Walaupun ibu bukan seorang sarjana, tapi ibu ku adalah wanita yang pintar. Dari bagaimana dia mengatur pola perilaku ku, pola makanan ku, hingga mengatur bagaimana aku harus tumbuh menjadi anak yang membanggakan baginya
Alhamdulillah, seiring beranjaknya waktu, dan telah mengumpulkan usia demi usia, hingga aku sudah bisa dibilang matang. Sedikit demi sedikit mimpi dan harapan yang dibangun ibu dan ditiipkan dipundakku menampakkan terangnya. Walaupun, belum ku akhiri mimpi ini. Aku bisa melanjutkan pendidikan ke jenjeng universitas adalah kebanggaan tersendiri bagi ibuku. Beliau selalu berkata, bahwa dia inginkan aku menjadi wanita yang tidak bodoh seperti dirinya
Sesungguhnya, andai engkau mengetahuinya ibu, sampai kapan pun, dan hingga ke strata apa pun ku gali ilmu ini, aku tetaplah seorang anak yang jauh di bawah mu. Tak akan bisa ku saingi cinta dan kasihmu serta pengorbananmu hanya karena aku sarjana, dan bertitel banyak di belakang namaku
Engkau akan tetap lebih pintar dari pada ku, duhai ibu. Karena, engkau pintar lah maka aku terlahir sebagai anak yang tidak mengecewakanmu
sekali lagi, terima kasih ibu, terimakasih untuk seluruh cinta yang tak bisa ku taksir jumlahnya, terimakasih untuk semua doa dan pengorbanannya
Selamat ulang tahun ibu
aku mencintaimu, tak terperih....
Di usia yang menjelang setengah abad ini, ibu tetap "setia" dengan kesederhanaan dan kesahajaannya. Hal itu yang membuat ku acap kali meneteskan air mata rindu di saat aku jauh dari ibu. Ibu ku bukan wanita yang istimewa dalam pandangan umum. Beliau bukan lah wanita yang menyandang gelar pendidikan di belakang namanya. Ibu bukan wanita yang memiliki karier yang cemerlang dalam kehidupannya. Beliau bukan pejabat, PNS, ibu darmawanita, maupun ibu-ibu yang orang memanggil "nyonya" kepadanya. Justru sebaliknya, ibu ku adalah wanita biasa dan serba biasa di setiap lini hidup yang dijalaninya. Beliau cukup puas dengan hanya pendidikan dasar yang dia punya, dan dia cukup bangga dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga.
namun, semua itu bukan jadi soal bagi aku, anaknya. Di mata setiap anak, pastilah orang tua mereka menjadi idola dan orang yang terbaik. Karena, sedari seorang anak membuka mata pertama kali di dunia ini, mendengar suara, hingga mampu mengucap kata-kata, semua itu dilewati bersama orang tua, khususnya ibu. Bagiku, ibu adalah guru terhebat yang pernah aku jumpai dalam hidup ini. Sedari aku kecil, hingga beranjak dewasa, ibu tidak pernah terlepas sedikitpun. Dengan nasihat-nasihat nya, dengan contoh yang dia berikan, dan kasih sayang yang tak terhenti tercurah. Walaupun ibu bukan seorang sarjana, tapi ibu ku adalah wanita yang pintar. Dari bagaimana dia mengatur pola perilaku ku, pola makanan ku, hingga mengatur bagaimana aku harus tumbuh menjadi anak yang membanggakan baginya
Alhamdulillah, seiring beranjaknya waktu, dan telah mengumpulkan usia demi usia, hingga aku sudah bisa dibilang matang. Sedikit demi sedikit mimpi dan harapan yang dibangun ibu dan ditiipkan dipundakku menampakkan terangnya. Walaupun, belum ku akhiri mimpi ini. Aku bisa melanjutkan pendidikan ke jenjeng universitas adalah kebanggaan tersendiri bagi ibuku. Beliau selalu berkata, bahwa dia inginkan aku menjadi wanita yang tidak bodoh seperti dirinya
Sesungguhnya, andai engkau mengetahuinya ibu, sampai kapan pun, dan hingga ke strata apa pun ku gali ilmu ini, aku tetaplah seorang anak yang jauh di bawah mu. Tak akan bisa ku saingi cinta dan kasihmu serta pengorbananmu hanya karena aku sarjana, dan bertitel banyak di belakang namaku
Engkau akan tetap lebih pintar dari pada ku, duhai ibu. Karena, engkau pintar lah maka aku terlahir sebagai anak yang tidak mengecewakanmu
sekali lagi, terima kasih ibu, terimakasih untuk seluruh cinta yang tak bisa ku taksir jumlahnya, terimakasih untuk semua doa dan pengorbanannya
Selamat ulang tahun ibu
aku mencintaimu, tak terperih....
Rabu, 14 April 2010
negeri ku, riwayatmu kini
kemaren siang, sepulang kuliah (kira-kira pukul 14.00 WIB). Aku berleha-leha di depan televisi, dengaN niat mendinginkan badan yang panas dan merefresh sedikit pikiran yang tegang selama belajar seharian di fakultas. Pertama, ada FTV di SCTV, ya lumayanlah (pikirku) bersantai sejenak melihat sisi kehidupan yang dikemas dalam bentuk sandiwara. Walaupun sering tidak masuk akal dengan realitas, tapi cukuplah menghibur hati dan jiwa yang "lapar" hiburan.Break iklan, tangan ini spontan meraih remote control dan mencari-cari channel TV lainnya, ya...semua break iklan. Sampai lima menit kemudian, tak sengaja channel yang kepencet oleh tanganku adalah breaking news di metro TV. Dalam breaking news tersebut, terlihatlah olehku kericuhan antara warga sipil dengan aparat polisi. " Memang zaman semakin edan (kataku), setiap hal harus diselesaikan dengan kekuatan otot. Aparat, yang harusnya menjadi penjaga dan pelayan rakyat, eh...justru berperan sebaliknya sebagai pembantai rakyat. Syukur di Indonesia tidak seperti itu (kataku lagi). Thailand memang mencekam nih......". Tapi, tunggu dulu. kenapa rasanya aku kenal bahasa mereka, dan OMG bukannya itu seragam nya Satpol PP ya?. Haaaa, entah apa yang harus kuungkapkan. Terlanjur malu juga sudah berujar jika di Indonesia tidak terjadi hal yang demikian, eh...malah menuduh thailand. Oh tuhanku,,,setelah ku setel kencang volume TV dan ku simak dengan seksama, semakin teranglah apa yang kulihat di kotak kaca tersebut. Ternyata itu memang di Indonesia kawanku, dan bahkan tempat terjadinya "kericuhan" itu hanya sekian kilo meter dari tempat ku berdiam diri. Yaitu, di kampung koja, Tg Priok Jakut
Apa yang kulihat adalah hal yang membuat aku bergidik ngeri sendiri. Kawan bayangkan sendiri, serasa tidak percaya bahwa hal itu terjadi di negeri yang kucintai ini. Suatu negeri yang keramahan bangsa nya sudah terkenal ke seantero dunia. Suatu negara yang "gemah ripah lo jinawi". Bangsa timur yang menjunjung tinggi kesopanan dan adat budaya. Tapi, itu tinggal kenangan saja rupanya. Kejadian kemaren seolah-olah membuatku berfikir ulang tentang bangsa ini. Bangsa yang ramah berubah beringas dengan senjata terhunus di tangannya. Dengan semangat liar, seolah ingin membantai semua kepala musuh yang ada di sana. Mereka lupa atau terlupa tentang siapa mereka semuanya. Amarah telah menutupi nurani dan hati yang tenang. Jadi, bisa kubilang peristiwa ini menambah catatan kelam dalam perjalanan negeri ini di bidang HAM dan penegakan hukum. Tidak tahu secara pasti siapa yang salah dan patut dipersalahkan. Apakah pemerintah yang disebut-sebut ingin mengambil alih lahan makam, atau masyarakat yang menjadi militan dan membabat bangsa sendiri?. Entahlah...tapi yang pasti, perdebatan panjang tidak akan membawa jalan cerah setituik pun. Yang ada hanya pertentangan yang akan menyulut api perlawanan lebih membara lagi. Selesaikan lah semuanya dengan kepala dingin. Karena kita manusia, yang diberi tuhan akal dan nurani untuk dipergunakan, bukan hanya sekedar pajangan.
wassalam
Jumat, 09 Oktober 2009
memasuki babakan baru .....
setelah empat bulan menghabiskan waktu libur di kampung halaman, so..datanglah waktu aku harus kembali lagi ke kampus. MMMhhh...perasaan pertama yang terasa adalah "capek", karena belum tentu mengikuti perkuliahan di kampus, membayangkannya aja aku udah merasakan kelelahan yang luar biasa. Bagaimana tidak? kul dari senin mpe jum'at, ditambah banyaknya tugas, kegiatan kanan kiri, de el el
tapi, ya harus gimana lagi? ini lah namanya proses kehidupan. Ketika aku sudah memutuskan bahwa aku akan menjalani ini, maka apapun yang terjadi aku harus tetap bertahan. Ibaratkan kata pejuang, mempertahankannya sampai titik darah penhabisan. he he he, lebay.
kembali kekampus, di samping perasaan di atas, tentunya aku uda kangen bgt ne ma UI. Secara, (seperti teman2 ku bilang), uda lebay bgt librnya. He.....gmana gak lebay? udah 3 bulan jth libur yang emang di kasih ma kampus, malah aku nambah 3 minggu lagi. so, seperti yang lw tahu/ aku bolos deh selama 3 minggu kul pertama.
ngomong2 masalah liburan....emang seru gila!banyak hal yang aku alami selama di rumah. Dari hal yang menyenangkan, kegiatan yang gak penting, mpe peristiwa2 yang menurutku aneh. OK...deh,aku see emang udah gak sabr ja ne pengen "ngemuntahin' pengalaman seru ku. You Know why? cause, aku takut lupa nee kalau aku udah liburan selama itu :)
1. sebelum pulang, aku sedih bgt, karena pegen bgt pulang tapi gak tahu harus pulang pake apa (hiks..hiks). Bulan itu emang bulan penuh air mata. Ayahku dipecat dari kerjaan. So pasti aku gak punya uang sama sekali. Sampai2 makan pun cuma sekali sehari (cik---cik---)kalau ingat ini aku pengen nagis ja ne. Namun, gak da satupun temen ku yang tahu lo...kalau aku ngalami semua ini. Karena, aku emang orang yang gak suka buat cerita permasalahan pribadi ke orang lain. Jadinya, happy2 ja deket mereka. Saat itu, aku cuma bisa doa bro, mpe aku tuh yang bener2 mohon bnget sama Allah untuk ngasih aku jalan. Allahu Akbar...beberapa hari setelah itu, ayahku tercinta nelfon aku dan bilang dia uda dapat kerjaan lagi dan aku bisa pulang bareng dia. Alhamdulilah bgt aku pikir, walaupun gak seindah yang ku bayangkan (dengan banyak kesedihan di sana sini) ya udah lah yang penting aku bisa pulang dan menikmatilibur panjang ku. Rumah Im Coming.....
2. uhhh...setelah berlelah-lelah ria di perjalanan, akhirnya aku nyampe rumah juga. Ekspresi pertama yang aku liatin ke abng aku tu ekspresi orang yang surprise bgt. WHY? Ya allah...aku ngeliat rumah ku tu kayak ngeliat rumah yang habis di tiup angin puting beliung, wuiissss...berantakan, parah9
(2 b coun)
tapi, ya harus gimana lagi? ini lah namanya proses kehidupan. Ketika aku sudah memutuskan bahwa aku akan menjalani ini, maka apapun yang terjadi aku harus tetap bertahan. Ibaratkan kata pejuang, mempertahankannya sampai titik darah penhabisan. he he he, lebay.
kembali kekampus, di samping perasaan di atas, tentunya aku uda kangen bgt ne ma UI. Secara, (seperti teman2 ku bilang), uda lebay bgt librnya. He.....gmana gak lebay? udah 3 bulan jth libur yang emang di kasih ma kampus, malah aku nambah 3 minggu lagi. so, seperti yang lw tahu/ aku bolos deh selama 3 minggu kul pertama.
ngomong2 masalah liburan....emang seru gila!banyak hal yang aku alami selama di rumah. Dari hal yang menyenangkan, kegiatan yang gak penting, mpe peristiwa2 yang menurutku aneh. OK...deh,aku see emang udah gak sabr ja ne pengen "ngemuntahin' pengalaman seru ku. You Know why? cause, aku takut lupa nee kalau aku udah liburan selama itu :)
1. sebelum pulang, aku sedih bgt, karena pegen bgt pulang tapi gak tahu harus pulang pake apa (hiks..hiks). Bulan itu emang bulan penuh air mata. Ayahku dipecat dari kerjaan. So pasti aku gak punya uang sama sekali. Sampai2 makan pun cuma sekali sehari (cik---cik---)kalau ingat ini aku pengen nagis ja ne. Namun, gak da satupun temen ku yang tahu lo...kalau aku ngalami semua ini. Karena, aku emang orang yang gak suka buat cerita permasalahan pribadi ke orang lain. Jadinya, happy2 ja deket mereka. Saat itu, aku cuma bisa doa bro, mpe aku tuh yang bener2 mohon bnget sama Allah untuk ngasih aku jalan. Allahu Akbar...beberapa hari setelah itu, ayahku tercinta nelfon aku dan bilang dia uda dapat kerjaan lagi dan aku bisa pulang bareng dia. Alhamdulilah bgt aku pikir, walaupun gak seindah yang ku bayangkan (dengan banyak kesedihan di sana sini) ya udah lah yang penting aku bisa pulang dan menikmatilibur panjang ku. Rumah Im Coming.....
2. uhhh...setelah berlelah-lelah ria di perjalanan, akhirnya aku nyampe rumah juga. Ekspresi pertama yang aku liatin ke abng aku tu ekspresi orang yang surprise bgt. WHY? Ya allah...aku ngeliat rumah ku tu kayak ngeliat rumah yang habis di tiup angin puting beliung, wuiissss...berantakan, parah9
(2 b coun)
Kamis, 14 Mei 2009
penggalan kisah itu berserakan tak beraturan di benakku, seperti sebuah puzles yang mesti ku susun beraturan untuk menyampaikan maksud sebuah gambar. Namun, sialnya sampai detik ini pun puzzle itu masih dalam keadaan yang tak beraturan. Kenapa? otakku seakan mati dan kekeringan ide serta kreativitas untuk memcahkan teka-teki murahan itu. sakit memang,,, ketika orang hanya bisa menertawakan kebodohan dan ketidak kuasaan ku. OH...aku memang tak melihat sosok manusia pada diri mereka, yang hanya bisa tertawa dan menyunggingkan senyum mengejek padaku yang terpaku pada potongan-potongan puzzle ini. Inginnya aku bangkit dan menempeleng kepala-kepala kosong mereka, tapi puzzle ini belum ku selesaikan dan masih berantakan. Come on aya...lihatlah mulut-mulut busuk mereka yang mengeluarkan tawa dan lihatlah wajah-wajah sombong mereka. PUihhhh...omong kosong! itu hanya wajah bodoh yang tak mengerti apa-apa. Eh..ayo kau ke sini gila dan kalian semuanya, apa kalian sanggup menyusun puzzle ini? aku rasa tidak akan, pernah..... apa kau tahu ini adalah gambar? sebuah gambar tepatnya susunlah puzzle itu bodoh, duduk denganku dan jangan hanya bisa berkacak pinggang menertawakan kebodohanku...
Rabu, 06 Mei 2009
serba abu-abu
hakekat dunia yang saya tahu adalah serba dua. ada adam, dan ada hawa. Ada siang, dan digantikan malam, ada suka pastilah ada masa bahagia. Dan begitulah hidup bergulir, serba dua dan serba berganti. Namun, pernahkah kita, merasakan berada dalam khazanah yang tidak begitu jelas? ibaratkan warna, kita hanya mengenal hitam dan putih. Bagaimana kalau abu-abu? tentunya saya akan jawab abu-abu adalah wilayah antara hitam dan putih. Sekarang pertanyaan baru yang lahir dari kebingungan demi kebingungan, adalah apakah ada wilayah seperti ini dalam kehidupan yang sedang berjalan?
yang aku tahu ada benar dan ada salah, lalu sekarang kalau benar dan salah? atau antara benar dan salah. Apakah namanya??? sekarang hidup ku dan hidup orang lain diwarnai oleh wilayah abu-abu yang serba tidak pasti. Antara cinta dan benci, atau antara manis dan pahit. Parahnya lagi, serba keraguan ini tetap tak diatasi, seolah-olah dia dapat rumah pelindung dan terus tumbuh menemani perkembangan kehidupan ini. Selamanya, tanpa pernah dimusnahkan, wilayah abu-abu inilah yang akan mewarnai kehidupan ini, dan kehidupanku.
tak bisa pasti, tak bisa benar , dan tak bisa salah. karena semua serba abu-abu....
yang aku tahu ada benar dan ada salah, lalu sekarang kalau benar dan salah? atau antara benar dan salah. Apakah namanya??? sekarang hidup ku dan hidup orang lain diwarnai oleh wilayah abu-abu yang serba tidak pasti. Antara cinta dan benci, atau antara manis dan pahit. Parahnya lagi, serba keraguan ini tetap tak diatasi, seolah-olah dia dapat rumah pelindung dan terus tumbuh menemani perkembangan kehidupan ini. Selamanya, tanpa pernah dimusnahkan, wilayah abu-abu inilah yang akan mewarnai kehidupan ini, dan kehidupanku.
tak bisa pasti, tak bisa benar , dan tak bisa salah. karena semua serba abu-abu....
Minggu, 19 April 2009
berakhir sudah.....
sudah beberapa hari terlewati dengan segala kepenatan yang tersisa dan amat membuatku tersiksa. Hari ini kelelahan itu akan ku khatam dan kembali ke kehidupan semula. Perasaan yang ada dalam hatiku saat ini ibaratkan sepiring gado-gado. Dari rasa pedas, manis, asam, dan asim berbaur menjadi satu rasa yang orang bilang enak. Namun, ku tak mengerti, dan serba tidak mengerti kenapa tidak ada perasaan enak dari percampuran rasa, yang ada di hati ini.
Senang,,,karena ku tak perlu lagi mempercepat mengakhiri mimpi di saat ku terjaga dari tidur, buru-buru berburu bikun untuk on time datang ke kampus, cape...pulang sore dan sebagainya
sedih,,,,dan benar-benar sedih aku karena TEAM yang ku LO in gak lolos ke quarter final
ku gak nerima ini, walaupun ku bukan orang yang mengerti seluk beluk debate, tetapi ku yakin team ku bakal bisa menang, tetapi dimana kesalahannya, aku sendiri bisa bilang aku gak tahu.
melihat hal ini, aku rela mau cape, lelah, mau gak makan, terserah, yang penting aku ikut senang ketika mereka mengumbar senyum dan semangat untuk menyiapkan segalanya
namun...sekarang aku ikut-ikutan sedih, padahal aku bukanlah siapa2 mereka
bukan teman, bukan pendamping, atau kekasih mereka
tetapi ku merasa bahwa aku juga sedih ketika mereka gak lolos ke quarter final
OOOOO
Senang,,,karena ku tak perlu lagi mempercepat mengakhiri mimpi di saat ku terjaga dari tidur, buru-buru berburu bikun untuk on time datang ke kampus, cape...pulang sore dan sebagainya
sedih,,,,dan benar-benar sedih aku karena TEAM yang ku LO in gak lolos ke quarter final
ku gak nerima ini, walaupun ku bukan orang yang mengerti seluk beluk debate, tetapi ku yakin team ku bakal bisa menang, tetapi dimana kesalahannya, aku sendiri bisa bilang aku gak tahu.
melihat hal ini, aku rela mau cape, lelah, mau gak makan, terserah, yang penting aku ikut senang ketika mereka mengumbar senyum dan semangat untuk menyiapkan segalanya
namun...sekarang aku ikut-ikutan sedih, padahal aku bukanlah siapa2 mereka
bukan teman, bukan pendamping, atau kekasih mereka
tetapi ku merasa bahwa aku juga sedih ketika mereka gak lolos ke quarter final
OOOOO
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)